Rabu, 11 Mei 2011

Nasionalisme dalam era Globalisasi




Teknologi informasi dan komunikasi adalah suatu faktor pendukung utama dalam globalisasi. perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar  luas ke seluruh dunia. Dan oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan dalam suatu negara. Pengaruh globalisasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap suatu bangsa.

    Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme

        Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan yang dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap Negara bisa menjadi meningkat.

        Dan dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.

        Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa kita yang pada akhirnya memajukan bangsa kita dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa kita.



    Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme

        Globalisasi juga mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang

        Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut, kfc, dll. membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.

        Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

        Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.

        Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidak pedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.





    Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda

Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.

Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.

Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?

Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.

    Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme

Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :

    Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.

    Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.

    Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.

    Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.

    Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

Minggu, 01 Mei 2011

Perang Dua Korea: Eksistensi Geopolitik Amerika dan Cina

Akhir 2010, dunia disajikan dengan berkecamuknya perang di Semenanjung Korea. Kedua negara yang sebenarnya serumpun ini kerapkali bersitegang. Ketegangan memuncak ketika Korea Utara menembakkan misil ke daerah teritorial Korea Selatan. Pertanyaan selanjutnya muncul, apa yang sejatinya terjadi dalam peristiwa besar di penghujung 2010 itu? Bagaimana kondisi geopolitik di kawasan itu? Siapa saja yang berperan dan berlomba dalam percaturan geopolitik itu?

Persaingan Amerika dan Cina

Persaingan antara Amerika Serikat dan Cina memang bukan menjadi rahasia lagi. Persaingan dalam kegiatan ekonomi dunia disinyalir menjadi salah satu dasar. Perang opini yang silih berganti dilontarkan oleh pembesar kedua negara menjadikan situasi semakin menarik untuk diperhatikan. Salah satu yang menarik tentu saja perang di Semenanjung Korea tersebut. Apakah kedua negara, Amerika dan Cina, memainkan perannya?

Seperti telah diketahui, kedua negara di Semenanjung Korea memang berbeda ideologi. Korea Utara lebih dikenal sebagai sebuah negara komunis yang mendasarkan kegiatan perekonomian mereka pada sistem sosialis. Sementara itu, Korea Selatan lebih berkiblat 180 derajat berbeda dengan negara tetangganya. Korea Selatan lebih terlihat sebagai sebuah negara liberal dan mendasarkan kegiatan perekonomian negaranya pada sistem kapitalis.

Perang Keberpihakan

Sebagaimana kita ketahui, karakteristik antara Cina dan Amerika Serikat juga memiliki kesamaan dengan persaingan dua Korea, Korea Utara dan Korea Selatan. Siapa berpihak kepada siapa tentu dapat dengan mudah ditebak. Para ahli geopolitik berpendapat bahwa Perang Dua Korea sebenarnya merupakan “perang” antara Cina dan Amerika Serikat.

Perang kedua negara dengan penduduk terbanyak tersebut disinyalir sebagai perang merebut pengaruh di kawasan tersebut. Amerika dengan kelengkapan amunisi perangnya dapat dengan mudah berada di sisi Korea Selatan. Sementara itu, Cina akan memberikan pengaruhnya pada negara yang berideologi hampir sama dengan mereka, Korea Utara.

Kondisi semakin memanas ketika Amerika Serikat dan Korea Selatan memutuskan untuk melakukan latihan perang bersama. Hal ini tentu saja membuat telinga pesaing Korea lainnya sontak memerah dan memanas. Negara tetangga lainnya, Jepang, tak luput dari perhatian. Seperti telah diketahui, Jepang mengizinkan berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat berdiri gagah di daerah Okinawa.

Hal ini tentu saja menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah komunis Korea Utara. Dengan adanya pangkalan militer tersebut, nantinya, bala bantuan Amerika Serikat kepada pesaing Korea lainnya, Korea Selatan, akan dengan mudah didistribusikan. Hal ini tentu sangat mengancam eksistensi Negara Komunis Korea Utara.

Liberalis Sampah peradaban

Ekonomi Kapitalis adalah Sampah Peradaban

Banyak orang yang secara sadar tidak perduli sistem ekonomi seperti apa sebenarnya yang diterapkan di dalam kehidupan negara Indonesia ini. Padahal informasi itu penting sekali agar kita dapat menilai ke arah mana negeri ini akan digiring oleh penguasanya.
Sadar atau tidak sadar, sekarang ini rakyat Indonesia  sesungguhnya tengah terjajah di dalam lingkaran ‘Sistem Hidup Kapitalisme’ yang akan membawa mereka ke dalam gelembung yang tak lama lagi akan meledak.
Seperti apa fakta yang terjadi sekarang ini? Dalam bidang ekonomi, Indonesia hingga saat ini justru hanya mampu berperan bagai ‘budak’ di antara bangsa-bangsa besar di dunia. Buktinya, Indonesia hanya bisa menjual bahan baku untuk diolah negara lain dan membeli barang jadinya dengan harga ratusan  kali lebih tinggi. Rakyatnya miskin, pertumbuhan ekonominya kecil dan terperangkap dalam lembah hutang luar negeri yang berbunga. Sementara kekayaan alamnya, asset-asset berharganya seperti Indosat, BCA, BII, tambang emas di Papua, dan lain-lain, sudah dikuasai asing. BUMN strategis lainnya pun seperti PT. Perkebunan Nusantara III, IV dan VII, Krakatau Stell, dan lain-lain, kabarnya juga akan diprivatisasi. Inilah sebabnya mengapa banyak kalangan menilai bahwa sistem ekonomi kapitalis atau neoliberal yang dipaksakan di negeri ini tidak akan mampu mengantarkan rakyat Indonesia ke  pintu gerbang kemakmuran.
Ada beberapa alasan sederhana mengapa sistem ekonomi kapitalis adalah sampah peradaban yang tak layak dipakai. Diantaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, utang sebagai senjata ampuh dalam Ekonomi Kapitalis untuk merangsang semangat konsumeristik bagi masyarakat.
Kedua, diterbitkannya kartu kredit merupakan langkah para Kapitalis untuk mendobrak pemakai jasa utang sehingga mendongkrak konsumen untuk membeli barang dan jasa.
Ketiga, bunga utang adalah pilar utama dalam mendongkrak laba di dalam sistem Ekonomi Kapitalis. Dan tentunya merugikan konsumen.
Keempat, utang dan piutang yang dijadikan modal dasar dalam berinvestasi membuat pondasi sistem ekonomi kapitalis ini rapuh atau mudah hancur sehingga dapat berujung pada krisis multidimensi. Hal ini mudah dimengerti karena arus uang yang mengalir sebagian besar bukan pada sektor riil.
Kelima, oleh karena kerapuhan pondasi sistem ekonomi kepitalis ini, pastinya ia tidak akan mampu memberikan solusi terbaik untuk mengantarkan kepada kesejahteraan umum (rakyat) yang sejati. Paling tidak hanya spekulan dan pemilik modal saja yang bertambah kaya dengan menikmati sistem ekonomi kapitalis yang ‘korup’ ini.

Dengan demikian teranglah betapa bobroknya sistem ekonomi kapitalis ini.